Shandong, Tiongkok — Suasana hangat dan penuh makna mewarnai perayaan Idulfitri di salah satu masjid bersejarah di Provinsi Shandong. Sebelum pelaksanaan salat Id yang dimulai sekitar pukul 10.00 waktu setempat, berlangsung sebuah pertemuan singkat selama kurang lebih 20 menit antara founder ienhub.com yakni bapak Dr. Ahmad Suaedy, MA.Hum dengan perwakilan staf pemerintah daerah yang membidangi pertahanan di Provinsi Shandong.
Dalam pertemuan tersebut, turut hadir staf ahli di bidang kebudayaan serta pakar kajian lintas agama yang menyoroti hubungan antara Konfusianisme dan Islam. Diskusi berlangsung dinamis dengan pertukaran pandangan mengenai nilai-nilai universal yang menjembatani kedua tradisi tersebut.
Pada kesempatan itu, Bapak Dr. Ahmad Suaedy MA.Hum memaparkan konsep Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama, termasuk peran penting Abdurrahman Wahid dalam mendorong dialog, toleransi, serta kontribusinya dalam membuka ruang hubungan yang lebih inklusif dengan Tiongkok. Sementara itu, pihak tuan rumah menjelaskan sejarah panjang interaksi antara Konfusianisme dan Islam di wilayah mereka.
Provinsi Shandong sendiri dikenal sebagai tanah kelahiran Confucius, sekaligus menjadi salah satu wilayah awal masuknya Islam di Tiongkok. Masjid tempat pelaksanaan salat Id tersebut bahkan disebut telah berdiri selama kurang lebih 500 tahun, menjadi saksi sejarah panjang keberagaman dan interaksi budaya di kawasan tersebut.
Pelaksanaan salat Id berlangsung khidmat dengan jumlah jamaah yang diperkirakan mencapai lebih dari 500 orang, bahkan hingga ribuan, yang datang dari berbagai wilayah di Shandong. Mengingat tidak semua daerah memiliki masjid besar, momen Idulfitri menjadi ajang berkumpulnya umat Muslim dalam skala besar.
Usai pelaksanaan salat, suasana kehangatan semakin terasa dengan pertemuan bersama mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswi dari berbagai program studi dan universitas yang tersebar di sejumlah kota di Tiongkok. Mereka datang dari lokasi yang berjauhan untuk merayakan Idulfitri bersama, mempererat tali silaturahmi di perantauan.
Momen ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga ruang dialog lintas budaya dan peradaban, memperkuat semangat saling pengertian di tengah keberagaman global.
Di akhir pertemuan, disampaikan pula ucapan “mohon maaf lahir dan batin,” menegaskan nilai-nilai kebersamaan dan saling memaafkan yang menjadi inti dari perayaan Idulfitri.
Ayu - Ienhub.com