Solo – Keraton Surakarta Hadiningrat kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pelestarian budaya yang selaras dengan nilai-nilai keislaman melalui gelar wicara bertajuk *“Wajah Tuhan dalam Budaya”*. Kegiatan ini berlangsung di Sasana Handrawina pada Jumat (17/4/2026) malam dan dihadiri puluhan abdi dalem serta mahasiswa.
Acara tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni GKR Koes Moertiyah Wandansari dan H.M. Zahrul Azhar Asumta. Dalam pemaparannya, GKR Koes Moertiyah Wandansari yang dikenal dengan sapaan Gusti Moeng menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meluruskan persepsi masyarakat yang menganggap keraton jauh dari nilai-nilai agama.
Ia menegaskan bahwa Keraton Surakarta merupakan keraton Islam yang memadukan tradisi dan syariat secara harmonis. Menurutnya, setiap upacara adat di keraton selalu berpedoman pada hari besar Islam.
“Keraton ini selalu menggunakan patokan hari besar Islam dalam setiap upacara adat. Di sinilah raja menyatukan adat dan agama dengan sangat indah,” ujarnya.
Gusti Moeng juga menjelaskan bahwa masuknya Islam ke tanah Jawa tidak menghapus budaya yang telah ada, melainkan menyelaraskannya dengan ajaran syariat. Filosofi kehidupan masyarakat Jawa di lingkungan keraton, lanjutnya, tetap berakar kuat pada nilai ketuhanan.
Sementara itu, H.M. Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans menilai kegiatan ini sebagai langkah positif untuk mempererat kembali hubungan antara keraton dan masyarakat, khususnya umat Muslim.
“Ada upaya dari keraton untuk meyakinkan kembali bahwa Keraton Surakarta adalah kerajaan berbasis Islam yang turut mengembangkan ajaran Islam di masa lalu,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya tercermin dalam tradisi, tetapi juga dalam arsitektur serta tata kehidupan di lingkungan keraton. Menurutnya, berbagai kegiatan seperti grebeg hingga filosofi bangunan memiliki keterkaitan erat dengan ajaran Islam.
Melalui gelar wicara ini, Keraton Surakarta berharap masyarakat dapat memahami bahwa budaya dan agama bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam membentuk identitas yang kokoh dan berakar kuat.
Ayu - Ienhub.com