Yogyakarta — Bapak Dr. Ahmad Suaedy yang merupakan akademisi sekaligus founder ienhub.com menyampaikan pandangannya mengenai kondisi demokrasi global dan arah masa depan Indonesia dalam sejumlah forum akademik di Yogyakarta. Kegiatan tersebut berlangsung di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, usai kunjungan akademik dari China.
Dalam kunjungannya, ia terlibat dalam diskusi buku bertajuk Imajinasi the Future Society di UNU Yogyakarta, serta forum akademik di UIN dengan tema “Studi Islam dan Konstruksi Masa Depan Indonesia”. Ia mengakui topik tersebut cukup kompleks, namun dinilai penting untuk membuka ruang refleksi akademik.
Dalam paparannya, ia menilai bahwa studi Islam di Indonesia telah berkembang pesat dan bersifat transformatif. Meski demikian, ia mempertanyakan sejauh mana perkembangan tersebut mampu melahirkan terobosan baru dalam aspek sejarah, filosofi, paradigma, maupun metodologi yang benar-benar berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena yang disebut sebagai kemunduran demokrasi (democratic regression) di tingkat global. Ia mencontohkan kepemimpinan tokoh-tokoh seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sebagai bagian dari dinamika tersebut. Menurutnya, praktik politik yang berkembang saat ini menunjukkan kecenderungan penggunaan kekuatan dan dominasi, yang dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan.
Ia berpendapat bahwa yang mengalami kemunduran bukanlah demokrasi secara umum, melainkan demokrasi liberal. Sistem tersebut dinilai memiliki kecenderungan eksploitatif dan berpotensi memaksakan kehendak melalui kekuatan, sehingga sulit mewujudkan keadilan sosial secara menyeluruh.
Dalam konteks Indonesia, ia menilai praktik demokrasi yang mengadopsi model liberal cenderung mengalami dinamika “maju-mundur”. Wacana perubahan sistem politik, seperti pengembalian mekanisme pemilihan oleh lembaga perwakilan, dinilai menunjukkan belum stabilnya arah demokrasi nasional. Ia juga mengkritik sistem pemilihan langsung yang dianggap lebih menguntungkan industri survei dibandingkan memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan rakyat.
Di sisi lain, ia menyoroti berkembangnya wacana alternatif di berbagai negara, khususnya terkait konsep pasca-sekularisme yang menekankan pentingnya peran agama dan spiritualitas dalam sistem politik dan sosial. Negara seperti China dan Iran disebut sebagai contoh yang mulai mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam pembangunan sistem negara, ekonomi, dan teknologi.
Menurutnya, kedua negara tersebut kini активно mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi material, tetapi juga mempertimbangkan dimensi spiritual dan kultural. Diskursus akademik di kedua negara pun dinilai terbuka, dengan melibatkan sarjana dan tokoh agama dalam merumuskan arah kebijakan.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya penafsiran ulang terhadap nilai-nilai ideologi nasional agar tidak semata mengikuti arus demokrasi liberal. Ia mendorong agar studi Islam di Indonesia dapat berkontribusi dalam merumuskan alternatif sistem yang lebih berkeadilan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ayu - Ienhub.com