Singapura, 12 November 2025 — Selama beberapa hari terakhir, peneliti dan cendekiawan Islam A. Ginanjar Sya’ban mendapat kehormatan dari Research Programme in the Study of Muslim Communities of Success (RPCS) di bawah Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) untuk berbagi pandangan mengenai Warisan Intelektual (Turats) Islam di Singapura serta kaitannya dengan dunia Melayu-Nusantara dan jaringan keilmuan Islam global.


Dalam sesi tersebut, A. Ginanjar menyoroti peran penting Singapura sebagai salah satu pusat intelektual Islam di kawasan ini, terutama pada masa peralihan abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada periode tersebut, banyak karya ulama Nusantara yang ditulis, disalin, dan dicetak di Singapura—baik dalam format litograf maupun tipograf—menunjukkan aktivitas keilmuan Islam yang dinamis di wilayah ini.


Beberapa karya penting yang lahir atau beredar di Singapura antara lain:


"Mawahib Rabb al-Falaq Syarah Qashidah Bint al-Mailaq" karya Syaikh Ismail al-Khalidi Minangkabau (w. 1858), yang ditulis di Teluk Belanga pada Dzulhijjah 1268 H (September 1852).


"Risalah Radd Ahl al-Thariqah fi Sinqafurah" karya Syaikh Salim bin Sumair al-Hadrami (w. 1857), ditulis pada 1269 H (1853 M).


"Fath al-‘Arifin", manual Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) yang berisi ajaran Syaikh Ahmad Khatib Sambas, disalin dan dicetak di Kampung Glam pada Jumadil Awwal 1287 H (Agustus 1870), ketika sang ulama masih hidup.


Selain itu, Singapura juga menjadi persinggahan sejumlah ulama besar Nusantara. Syaikh Tamim al-Bantani—adik dari Syaikh Nawawi al-Bantani—pernah menjadi syaikhul hujjaj di Singapura dan Penang. KH. Khalil Bangkalan (w. 1925) pun pernah singgah cukup lama di Singapura pada tahun 1330 H (1913 M), bahkan sempat menulis surat kepada menantunya di Madura dari kota tersebut.


Kota ini juga menjadi salah satu pusat percetakan penting bagi kitab-kitab beraksara Pegon Jawa karya ulama Nusantara. Beberapa di antaranya meliputi karya KH. Soleh Darat Semarang (w. 1903), KH. Muhammad Sa’id bin Arsyad Semarang, KH. Rd. Asnawi Kudus (w. 1959), KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal (w. 1998), hingga Tafsir al-Qur’an Jawa Pegon karya Pakempalan Mardikintaka Surakarta (1924–1925).


Jejak sejarah keilmuan ini juga tampak ketika Delegasi Komite Hijaz Nahdlatul Ulama, yang dipimpin KH. Abdul Wahhab Chasbullah bersama Syaikh Ahmad Ghanayim al-Amir al-Azhari, singgah di Singapura selama dua minggu dalam perjalanan menuju Hijaz pada 1346 H (1928). Dalam kesempatan itu, mereka disambut oleh ulama besar Singapura, Syaikh Fadhlullah Suhaimi (w. 1964).


Penelusuran ini menegaskan bahwa Singapura bukan hanya menjadi simpul perdagangan dan perjalanan haji pada masa lalu, tetapi juga pusat penting dalam jaringan transmisi keilmuan dan percetakan Islam di kawasan Melayu-Nusantara.


“رب يسر ولا تعسر رب تمم لنا بالخير”

(Ya Tuhan, mudahkanlah urusan kami dan sempurnakanlah dengan kebaikan.)


Singapura, 21 Jumadil Akhir 1447 / 12 November 2025

Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban


Sumber: Facebook Ahmad Ginanjar Sya'ban.

Ditulis ulang atas izin penulisnya