Jakarta, 11 Januari 2026 - Komunitas Woman Hub menyelenggaran program perdana bertajuk Woman Hub Catalyst Forum (WHCF). Forum ini lahir dari 2 tangan Perempuan Muda yaitu Siti Nurhaliza & Ratu Hanum TWA merupakan inisiatif strategis yang bertujuan memperkuat peran perempuan sebagai aktor utama pembangunan melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lainnya.

Kegiatan tersebut berhasil menghimpun 150 pemimpin perempuan terpilih (Top 150 Women Leaders) dari berbagai latar belakang profesi dan wilayah. Lebih dari 300 peserta turut hadir dalam forum yang berfokus pada perumusan gagasan inovatif serta solusi konkret bagi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan kebijakan publik di Indonesia.

Dukungan Pemerintah dan Organisasi Kepemudaan Penyelenggaraan WHCF memperoleh dukungan dari sejumlah kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Kementerian Agama Republik Indonesia, serta organisasi kepemudaan Youth Ranger Indonesia.

Dukungan tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong pemberdayaan perempuan sebagai bagian integral dari agenda pembangunan nasional.

Kurikulum Berkelanjutan dan Seleksi Ketat WHCF dirancang dengan kurikulum komprehensif dan berkelanjutan. Para peserta terlebih dahulu melalui proses seleksi ketat sebelum memasuki tahap inti program, yakni sesi Woman Talk dan Focus Group Discussion (FGD).

Pada tahap ini, setiap kelompok mempresentasikan rancangan proyek inovatif yang ditujukan untuk diimplementasikan secara langsung di masyarakat. Selain kapasitas konseptual, peserta juga diuji dari sisi profesionalisme melalui kemampuan memperoleh dukungan pendanaan atau sponsor secara mandiri sebelum proyek resmi dijalankan.

Penguatan Kapasitas pada Tiga Pilar Strategis Forum ini menghadirkan pakar dan praktisi dari tiga bidang utama yang dinilai strategis dalam mendorong kepemimpinan perempuan, yaitu pendidikan, teknologi digital, dan politik.

Dalam sesi pendidikan, Khansa Khalisha menegaskan bahwa pendidikan perempuan merupakan fondasi perubahan struktural yang berkelanjutan.

“Mendidik perempuan bukan sekadar argumen moral, melainkan peningkatan sistem. Ketika perempuan teredukasi, dampaknya akan melintasi generasi, ekonomi, dan institusi,” ujarnya.

Sementara itu, pada sektor teknologi, Hafiza Rizki Nurbaiti menyoroti pentingnya penguatan kapasitas perempuan di ruang digital, khususnya dalam aspek keamanan, partisipasi, dan kepemimpinan daring.

“Memperkuat agensi, keamanan, dan partisipasi online perempuan merupakan kunci menghadapi masa depan digital,” tegasnya.

Adapun dalam bidang politik, Feli Fildzah Izzati Ishmah menekankan bahwa pengalaman domestik perempuan memiliki relevansi langsung terhadap kebijakan publik.

“Jika kebijakan negara dapat menjangkau ruang domestik, maka pengalaman perempuan di ruang tersebut juga berhak menjadi bagian dari proses pengambilan kebijakan,” jelasnya.

Dari Forum Menuju Implementasi Nyata , WHCF tidak hanya dirancang sebagai forum diskusi, melainkan sebagai platform akselerasi kepemimpinan perempuan yang berorientasi pada implementasi program. Setiap gagasan yang dihasilkan diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk proyek nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor, WHCF berupaya membangun ekosistem kepemimpinan perempuan yang berkelanjutan, inklusif, dan responsif terhadap dinamika global maupun kebutuhan nasional.

Penyelenggaraan forum ini diharapkan menjadi langkah awal dalam melahirkan lebih banyak pemimpin perempuan yang kompeten, berintegritas, dan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan Indonesia di masa mendatang.

Ibu Linda Setiawati M.Hum selaku co-founder ienhub.com turut hadir menyaksikan acara akhir kegiatan ini di Masjid Istiqlal pada sesi Graduation untuk Top 50 Pemimpin Perempuan yang Terpilih.