Seminar bertajuk ASEAN-China Academies on Governance and Public Administration and Think Tanks resmi dibuka pada Senin (3/11) di Nanning, ibu kota Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. Acara ini menyoroti isu-isu seputar tata kelola nasional, regional, hingga global, serta menjadi ajang bagi peserta dari kedua pihak untuk memperkuat kerja sama dan menyatukan pandangan.

Dengan tema “Tata Kelola Nasional dan Peradaban Asia” (National Governance and Asian Civilizations), kegiatan ini menghadirkan sekitar 100 peserta yang terdiri atas perwakilan dari negara-negara ASEAN, pejabat China, serta pakar dan akademisi dari berbagai lembaga penelitian, universitas, dan wadah pemikir.

Dalam sambutannya, sejumlah peserta internasional mengapresiasi peran aktif China dalam berbagi pengalaman dan keahlian di bidang tata kelola, baik di tingkat nasional maupun global. Mereka juga menilai seminar ini sebagai langkah nyata dalam menindaklanjuti hasil pertemuan para pemimpin China-ASEAN, sekaligus memperkuat kolaborasi di bidang pelatihan dan pertukaran pengetahuan tentang tata kelola.

Empat sesi paralel yang diadakan secara bersamaan membahas berbagai topik, antara lain tata kelola negara di masyarakat Asia, efektivitas tata kelola di era digital, kerja sama regional, serta pendekatan khas Asia terhadap tata kelola global.

Sebagai pusat kegiatan utama, Guangxi berperan penting dalam memperdalam kemitraan strategis komprehensif antara China dan ASEAN, yang kini diakui sebagai salah satu model kerja sama paling dinamis dan sukses di kawasan Asia-Pasifik.

Oleh: Ahmad Suaedy