Pada pagi hari Kamis (13/11/25) yang lalu, saya berkesempatan untuk menziarahi makam Syaikh Fadhlullah Suhaimi al-Azhari, seorang ulama besar Singapura yang sangat berpengaruh dan berasal dari keluarga kiyai Jawa. Dalam ziarah tersebut, saya mendapat kehormatan dibersamai oleh para cendekiawan muda Muslim Singapura, yaitu Syaikh Faruq, Ustadz Ahmad Ubaidillah, Ustadz Matin, dan Ustadz Nabil. Mereka semua adalah pengurus RPCS, sebuah lembaga yang berada di bawah MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura).

Syaikh Fadhlullah bukan hanya memiliki peran penting dalam sejarah komunitas Muslim di Singapura, tetapi juga berkontribusi besar dalam sejarah perjalanan Komite Hijaz, yang melakukan misi diplomasi internasional Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia. Sayangnya, sosok dan jasanya dalam salah satu babak terpenting sejarah besar NU ini sudah terlupakan.

Komite Hijaz dibentuk pada tahun 1926 bersamaan dengan berdirinya NU di Surabaya, namun baru terealisasi pada tahun 1928. Delegasinya terdiri dari KH. Abdul Wahhab Chasbullah dan Syaikh Ahmad Ghanayim al-Amir al-Azhari al-Mishri. Dalam perjalanan dari Surabaya menuju Makkah, delegasi Komite Hijaz singgah cukup lama di Singapura dan Johor. Hampir semua aktivitas mereka di dua wilayah tersebut difasilitasi oleh Syaikh Fadhlullah. Hal ini dituturkan KH. Abdul Wahhab Chasbullah dalam memoar perjalanannya.


Berasal dari Keluarga Kiyai Wonosobo

Syaikh Fadhlullah lahir di Kampung Glam, Singapura, pada tahun 1886. Ayahnya, Kiyai Suhaimi bin Abdullah bin Umar Basyaiban, berasal dari Sudagaran, Wonosobo, dan memiliki hubungan nasab dengan keluarga ulama Yogyakarta. Kiyai Suhaimi pernah belajar di Pesantren Tremas pada masa Kiyai Abdul Mannan Dipomenggolo, lalu melanjutkan pendidikan ke Makkah dan berguru kepada Syaikh Nawawi Banten. Setelah itu ia berkarir di Singapura dan Selangor.

Ibu Syaikh Fadhlullah adalah Nyai Qani’ah binti Abdul Rahim dari Kalibeber, Wonosobo. Dari jalur ini, Fadhlullah masih sepupu dengan Kiyai Muntaha (1912–2004), ulama besar ahli al-Qur’an dari Kalibeber. Kakeknya, Kiyai Abdul Rahim, telah mengasuh pesantren al-Qur’an sejak 1860-an.

Fadhlullah kecil belajar kepada ayahnya. Saat remaja ia berlayar ke Makkah dan menetap di sana sekitar 1905–1914. Pada masa itu terdapat banyak ulama Nusantara yang mengajar di Makkah, seperti Syaikh Ahmad Patani, Syaikh Abdul Hamid Kudus, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Nahrawi Banyumas, dan lainnya—dan dapat dipastikan Fadhlullah muda belajar pada beberapa dari mereka.


Di Makkah dan Kairo sebagai Ulama Muda

Pada masa yang sama, banyak pula ulama muda Jawa yang bermukim di Makkah: KH. Asnawi Kudus, KH. Abdul Wahhab Chasbullah, KH. Abdul Chalim Leuwimunding, KH. Abbas Buntet, KH. Mas Manshur, KH. Mas Alwi Abdul Aziz, dan lainnya.

Ketika Perang Dunia I meletus pada 1914, terjadi repatriasi besar-besaran dari Makkah. Sebagian ulama kembali ke Hindia Belanda, sebagian lainnya pergi ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar. Fadhlullah termasuk yang menuju Kairo bersama KH. Mas Mansur.

Di Kairo, kapasitas keilmuannya telah matang. Terbukti dari karyanya Kitab Pelajaran Tauhid, ditulis dalam bahasa Melayu Jawi dan diterbitkan tahun 1914 oleh Mathba’ah al-Ittihâdiyyah. Ia juga menjadi aktivis intelektual di kalangan pelajar Jawi, mendirikan Majalah al-Ittihâd, dan mengelola Mathba’ah al-Ittihâdiyyah.

Kiprah ini sangat terkait dengan tradisi literasi Kampung Glam, pusat percetakan Muslim Nusantara sejak abad ke-19, tempat kelahirannya. Banyak tokoh percetakan penting di sana yang berasal dari Jawa, seperti Muhammad Ali Purbalingga, Muhammad Nuh Kajen, Muhammad Amin Pati, Muhammad Siraj Rembang, dan lainnya.


Jejak di Batavia dan Banjarnegara

Tahun 1916, Syaikh Fadhlullah kembali ke Singapura dan mengajar di Madrasah al-Saggaf. Tahun yang sama ia berpindah ke Jawa. Di Weltevreden, Batavia, ia menulis Târîkh al-Islâm pada 14 Desember 1917, sebuah kitab sirah Nabi dan sejarah peradaban Islam. Ia menegaskan dirinya sebagai ulama al-Azhar dengan menambahkan nisbat al-Azhari.

Di Jawa, ia mendirikan dan mengelola Madrasah Darul Ma’arif di Banjarnegara. Bukti keberadaan madrasah ini terdapat dalam surat berbahasa Arab bertanggal 14 Muharram 1342 H (27 Agustus 1923). KH. Muntaha bin Asy’ari tercatat pernah belajar di madrasah tersebut pada masa kecil.

Pada masa 1920-an, di Jawa juga berkembang Madrasah Nahdlatul Wathon di Surabaya dan kota-kota lainnya, didirikan oleh rekan-rekan Fadhlullah semasa belajar di Makkah, seperti KH. Abdul Wahhab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan KH. Mas Alwi Abdul Aziz.


Nahdlatul Ulama dan Komite Hijaz

Belum ditemukan sumber yang menyebut keterlibatan Syaikh Fadhlullah dalam pendirian NU tahun 1926. Namun Mustasyar HBNO mencatat nama Syaikh Abdul Alim al-Shiddiqi al-Hindi, sahabat Fadhlullah di Singapura.

Keterlibatan langsung Fadhlullah dalam sejarah NU terlihat dalam perjalanan Komite Hijaz tahun 1928. KH. Abdul Wahhab Chasbullah tiba di Singapura pada 1 April 1928. Tokoh-tokoh Muslim Singapura menyambutnya, termasuk Fadhlullah.

KH. Wahhab menulis bahwa selama di Singapura ia menginap di rumah Tuan Salim Mathor. Umat Muslim Singapura mengadakan acara besar di Kampung Glam, dipimpin oleh Syaikh Fadhlullah Suhaimi—kepala percetakan al-Athas, redaktur Majalah Jasa di Johor, dan imam Masjid Jami Kampung Jawa Singapura.

Sejumlah majelis lanjutan diinisiasi oleh Fadhlullah pada 16 Syawal 1346 H (6 April 1928). Tokoh-tokoh yang hadir antara lain Encik Muhammad Yunus, Haji Ali bin Haji Muhammad Sholeh, Encik Mas’ud bin Haji Zainal Abidin, Syaikh Muhammad al-Syadzini bin Utsman, dan lainnya.

Pertemuan lain digelar pada 19 dan 22 Syawal 1346 H. Pada 23 Syawal, delegasi Komite Hijaz diundang ke Sociëteit Dâr al-Nâdî al-‘Arabî, forum keturunan Arab di Singapura. Persinggahan berakhir pada 26 Syawal 1346 H (16 April 1928), ketika delegasi bertolak ke Jeddah.


Legacy Syaikh Fadhlullah di Singapura

Dari Jawa, Syaikh Fadhlullah kembali berkiprah di Singapura dan Malaya. Ia mendirikan dan mengelola sejumlah madrasah penting:

Madrasah al-‘Aththas di Johor (1931–1937),

Madrasah al-Firdaus di Singapura (1937–1941),

Madrasah al-Lughah wa al-Din di Pahang (1955),

serta Madrasah al-Ma’arif di Singapura (1936), yang masih beraktivitas hingga kini.

Ia juga merupakan penulis prolifik, menghasilkan karya dalam bahasa Arab, Melayu Jawi, dan Jawa Pegon. Sebagian karyanya masih dipelajari masyarakat Muslim Singapura.

Syaikh Fadhlullah adalah sosok dengan latar tradisi keilmuan kosmopolis: Jawa–Melayu–Singapura; Nusantara–Hijaz–Mesir; Aswaja–Azhari; sekaligus menjadi jembatan tradisionalis dan modernis. Beliau wafat pada tahun 1964 dan dimakamkan di Singapura. Kini makamnya berada di Pusara Abadi, blok 427 plot 2265, di antara makam ulama dan tokoh Singapura dari paruh pertama abad ke-20.


نفعنا الله تعالى بهم وبعلومهم في الدارين آمين

Ditulis dalam perjalanan Singapura-Jakarta, 25 Jumadil Akhir 1447 Hijri

Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Ditulis ulang atas sepengetahuan dan persetujuan penulisnya