27 September 2025 -- PKU MUI Bogor.
Mendaras sanad keilmuan dan jaringan intelektual ulama Bogor dan Sunda lainnya di abad ke-19 dan 20 M.
Di antara materi daras adalah sosok RH. Musa bin Nasir, murid dari Syaikh Abdul Shamad Palembang, yang menyalin naskah "Sair al-Salikin" karya al-Palimbani di Bogor pada tahun 1823.
Ada pula manuskrip silsilah tarekat Syathariah dan Naqsyabandiah yang diriwayatkan RH. Thahir Bogor (w. 1849), dari Syaikh Abdullah bin Abdul Qahhar Banten, dari Ibrahim Thahir Madinah (w. 1774), dari Muhammad Abu Thahir Madinah (w. 1733), dari Ibrahim al-Kurani (w. 1690), dari Ahmad al-Qusyasyi Madinah (w. 1661) dan seterusnya. Jalur silsilah Syathariah RH. Thahir Bogor tersebut kemudian dibandingkan dengan manuskrip yang juga memuat silsilah Syathariah lainnya dari Jasinga Bogor, yaitu jalur periwayatan Kiyai Mas Arif Jasinga, dari Tubagus Abdul Syakur (muda) Banten, dari Tubagus Muhyiddin Banten, dari Syaikh Abdul Syakur (tua) Banten, dari Ibrahim al-Kurani Madinah, dari Ahmad al-Qusyasyi Madinah. Sosok Syaikh Abdul Syakur (tua) Banten sendiri merupakan cucu Sultan Abu al-Mafakhir Banten (w. 1651).
Di peralihan abad ke-19 dan 20 M, terdapat Syaikh Mukhtar Atharid Bogor (w. 1930), maha guru ulama Sunda yang mengajar di Makkah. Beliau satu kurun masa dengan Kiyai Tubagus Falak Pagentongan. Dalam daras pagi tadi, dikaji pula dua manuskrip ijazat dan sanad Dala'il al-Khayrat dari Syaikh Mukhtar Bogor yang diturunkan kepada dua orang muridnya dari Sunda, yaitu Kiyai Syathibi Gentur (w. 1946) dan Kiyai Hasan Basri Cicurug (w. 1948). Hal yang didaras lainnya adalah jaringan "Pesantren Alfiyyah" di Bogor, salah satunya adalah pesantren Kiyai Ahmad Epe Maribaya Bogor, yang silsilah periwayatan Alfiyyah Ibnu Malik-nya berasal dari Kiyai Adzra'i Sukaraja Garut, dari Kiyai Khalil Kasingan Rembang (w. 1939), dari Kiyai Khalil Bangkalan Madura (w. 1925), dan seterusnya.
نفعنا اللع تعالى بهم وبعلومهم في الدارين
Alfaqir A. Ginanjar Sya'ban
Sumber: Facebook, dimuat ulang atas izin penulisnya.