Jakarta, ienhub.com – Peringatan Haul KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-16 kembali digelar dengan khidmat dan penuh refleksi. Tahun ini, haul mengusung tema “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat”, sebuah pesan yang secara sengaja dipilih panitia untuk menegaskan kembali nilai-nilai perjuangan Gus Dur yang berpihak pada rakyat.
Ketua Panitia Haul Gus Dur ke-16, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat sebagai respons atas kondisi kebangsaan saat ini, di mana ruang partisipasi rakyat dalam proses pengambilan kebijakan dinilai semakin terpinggirkan.
“Tema ini kami pilih secara sengaja karena hari ini kita melihat ruang untuk rakyat dalam pengambilan kebijakan makin menyempit. Padahal, cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia adalah memastikan rakyat memperoleh keadilan, kemakmuran, dan kehidupan yang sentosa,” ujar Alissa Wahid.
Alissa menegaskan, segala kebijakan dan langkah yang diambil dalam skala bangsa dan negara seharusnya berorientasi pada kepentingan rakyat. Ia menekankan bahwa demokrasi sejatinya tidak berhenti pada slogan, tetapi menuntut keterlibatan aktif rakyat dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Dalam konsep demokrasi, ‘untuk rakyat’ berarti melibatkan rakyat. Harapan, aspirasi, dan kebutuhannya harus diperhatikan dalam menyusun dan mengelola kehidupan bersama. Jadi, rakyat tidak hanya menjadi penerima bantuan sosial, pasar ekonomi, atau sekadar pelengkap penderita,” tegas putri sulung mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.
Menurut Alissa, tema Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat ditujukan tidak hanya kepada negara dan elite politik, tetapi juga kepada Nahdlatul Ulama (NU) serta rakyat itu sendiri. Harapannya, rakyat berani dan aktif mengambil ruangnya untuk menyampaikan aspirasi serta terlibat dalam menentukan arah kehidupan bersama.
Agenda utama peringatan Haul Gus Dur ke-16 pada malam itu diisi dengan tiga tausiah, yang menjadi ruang refleksi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan kepada kelompok rentan. Tausiah penutup disampaikan oleh istri Gus Dur, Nyai Hj. Sinta Nuriyah Wahid, yang hadir sebagai ibu bangsa, ketua gerakan nurani bangsa, dan pejuang mandiri.
Dalam tausiahnya, Nyai Sinta menuturkan bahwa jiwa dan perjuangan Gus Dur tidak pernah terpisah dari rakyat. Hal itu tercermin dari perjalanan hidup, sikap, serta kepemimpinannya yang senantiasa berpihak kepada mereka yang terpinggirkan.
“Gus Dur turun ke tengah-tengah masyarakat, menjadi rakyat biasa, dan memulai perjuangannya dari rakyat serta untuk rakyat,” ujar Nyai Sinta.
Melalui peringatan Haul Gus Dur ke-16 ini, nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada rakyat kembali ditegaskan sebagai warisan penting Gus Dur bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Haul ini tidak hanya menjadi ruang doa dan mengenang, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kembali peran rakyat sebagai subjek utama dalam demokrasi Indonesia.
Editor: Aljazuli, ienhub.com