Ahmad Suaedy (Founder ienhub.com)

Tidak bisa dipungkiri bahwa orang dan tokoh Indonesia yang paling memiliki perhatian dan daya ingat mendalam tentang Cina atau Tiongkok adalah Gus Dur, mantan presiden keempat Indonesia. Gus Dur sudah sangat lama memberikan pernyataan bahwa beliau sendiri adalah keturunan Cina dan Cina memiliki peran penting dalam perjalanan Nusantara dan Islam Nusantara.

Semula banyak orang termasuk saya menganggap bahwa pernyataan Gus Dur itu hanya untuk neng-neng (Jawa) atau menenangkan orang-orang Cina Indonesia supaya merasa tenang karena mereka dianggap bagian dari kelompok besar Indonesia, Islam, Indonesia dan bahkan Jawa. Karena di era Orde Baru, orang-orang Cina mendapat perlakuan tidak adil bahkan diskriminasi. Hanya memang ada beberapa orang Cina konglomerat yang mendapatkan privilege oleh Orde Baru karena menguntungkan aktor-aktor mereka. Sedangkan orang Cina rakyat jelata mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Maka kedekatan Gus Dur dengan Cina dianggap hanya untuk melindungi mereka sebagaimana konsen Gus Dur melindungi orang lemah lainnya.

Saya baru sadar bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Gus Dur tentang Cina itu benar-benar serius. Dalam lawatan saya ke Cina atau Tiongkok bulan lalu itu, saya bertemu dengan seorang guru besar, namanya profesor Zheng Kuan Tao. Salah satu keahliannya adalah tentang sejarah Maritim dan khususnya berkaitan dengan Zheng He atau Cheng Ho. Dalam suatu perjalanan riset ke Indonesia, profesor Zheng Kuan datang ke rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan. Setelah wawancara dan berbincang panjang Gus Dur meminta tolong kepada Zheng Kuan untuk meneliti nenek moyang Gus Dur di Tiongkok. Profesor Zheng pun menyanggupinya.

Menurut Zheng Kuan kepada saya, ada tiga akar nenek moyang Gus Dur, yaitu Jawa, Arab dan Tiongkok. Itu hasil penelitian dia. Jadi klaim Gus Dur bahwa dia keturunan Cina terbukti secara ilmiah. Ini dikuatkan oleh silsilah Islam Nusantara di Museum Budaya Cheng Ho atau The Cheng Ho Museum and Culture di Malaka https://www.chengho.my/. Dalam museum tersebut terdapat silsilah orang Cina di Nusantara yang di dalamnya ada Walisongo yang bersambung ke atas hingga Cheng Ho dan ke Tiongkok serta ke bawah terdapat nama Gus Dur. Dari silsilah ini setidaknya bisa dimengerti bahwa Gus Dur memang ada darah Cina ke atas, ke Cheng Ho dan Walisongo.

Ini juga dikuatkan oleh sejarah hidup Cheng Ho sendiri. Bahwa Cheng Ho bukan hanya seorang Laksamana dan utusan diplomasi dan dagang melalui jalan maritim dari Dinasti Ming di Tiongkok di awal abad ke-15 melainkan dia adalah seorang pendakwah Islam. Dalam perjalanan mengarungi lautan ke seluruh dunia khususnya ke Nusantara tahun 1405 - 1533 M. selama tujuh kali pelayaran besar, dia melakukan dakwah Islam, mendirikan masjid di berbagai pantai yang dia kunjungi termasuk di negeri Tiongkok sendiri.

Bahkan sebelum mengakhiri rangkaian pelayanan agung itu Cheng Ho sempat mendirikan perwakilan Islam untuk Asia Tenggara (sekarang) di Kesultanan Champ yang kini menjadi bagian dari Vietnam dan Kamboja sebelum dibumihanguskan oleh kerajaan Budha Viet pada 1471 M. Salah satu putri Champ dinikahi oleh raja Majapahit Brawijaya sehingga masuk akal jika banyak tokoh dan pendakwah Islam serta Walisongo adalah merupakan keturunan raja kerajaan Majapahit. Demikian juga Raden Fatah yang merupakan Sultan pertama kesultanan Demak adalah juga keturunan putri Champ dan raja atau pangeran Majapahit tersebut meskipun tumbuh dewasa di Palembang, Sumatera Selatan.