Bandung–Bogor, Mei 2026 — Mata kuliah Peace Education Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang diampu Dr. Neng Hannah, M.Ag., sukses menyelenggarakan rangkaian project perdamaian bertema “Membuka Ruang Aman untuk Dialog Lintas Perbedaan” sepanjang 4–25 Mei 2026. Program ini menjadi implementasi pembelajaran perdamaian melalui praktik langsung dialog, empati, dan trust-building di tengah masyarakat majemuk.

Ketua Jurusan AFI, Maman Lukmanul Hakim, menyampaikan bahwa mata kuliah ini merupakan bagian dari misi keempat jurusan, yaitu mendorong tumbuhnya masyarakat Jawa Barat yang religius, damai, dan toleran. Menurutnya, project ini juga menjadi upaya mempersiapkan profil lulusan AFI sebagai analis dan konsultan masalah keagamaan yang mampu menjadi mediator konflik sosial, konsultan perdamaian, serta teolog yang toleran dan inklusif.

Kelompok pertama menggelar program Humanity in Motion pada 16 Mei 2026. Kegiatan berbasis gerak tubuh, refleksi, dan interaksi ini mengajak peserta memahami keberagaman melalui pengalaman langsung. Peserta diajak menyadari bahwa setiap manusia memiliki cerita, pengalaman, dan cara pandang berbeda yang harus dipahami, bukan dipertentangkan.

Kelompok kedua menyelenggarakan Perjumpaan Mahasiswa Lintas Kampus di Kampus Mubarak Bogor pada 11 Mei 2026. Dialog ini mempertemukan mahasiswa Al-Mubarak Ahmadiyah, UIN Bandung, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dan Universitas Paramadina. Forum ini menjadi ruang dialog antaragama yang menekankan pentingnya memahami sesama sebagai manusia, bukan sekadar identitas kelompok. Perspektif filsafat dialog Martin Buber tentang relasi Aku dan Engkau turut menjadi inspirasi kegiatan tersebut.

Sementara itu, Kelompok 3 mengadakan Dialog Sunni dan Syiah Bersama Initiative of Change di Masjid Mubarak Bandung pada 22 Mei 2026. Bersama Initiatives of Change Indonesia, mahasiswa membangun ruang aman untuk dialog intrafaith Muslim melalui metode trust building dan honest conversation.

Rangkaian project ini menunjukkan bahwa pendidikan perdamaian tidak cukup diajarkan secara teoritis, tetapi perlu dihadirkan melalui pengalaman nyata agar lahir generasi yang cerdas, empatik, dan mampu membangun perdamaian di tengah keberagaman Indonesia.